Sejujurnya, Wonwoo udah nggak tau mau gimana lagi. Jantungnya berdegup nggak karuan—padahal naik tangga cuma dikit, belok kanan sekali, lalu sampai juga dia di tujuan. Paru-parunya terasa sesak kayak habis lari sprint, bukan cuma karena capek, tapi karena kemungkinan yang ada di balik pintu itu.
Cuma kalau yang buka pintu adalah pria idaman—ya Wonwoo takut mimisan.
Gak sekali dua kali sebenernya Wonwoo ketemu Junhui. Mereka sering papasan, sering ngobrol singkat, sering tukar pandang yang terlalu lama buat disebut kebetulan. Tapi kalau disuruh lihat wajahnya langsung, jarak sedeket ini, tanpa layar, tanpa distraksi—macam one-on-one korporat yang nasib kariernya ditentuin dari satu presentasi—mampus udah.
Wonwoo sibuk mengamati (dan menghitung?) tahi lalat di wajah Junhui, kayak bikin peta rahasia. Yang ini dekat mata, yang itu di pipi, yang satu lagi… ah, itu baru kelihatan kalau Junhui miring dikit. Kayak nyari konstelasi di langit malam: Orion, Cassiopeia, Junhui. Segitu parahnya.
Makanya Wonwoo sama sekali nggak berharap waktu pintu diketuk, Junhui yang buka. Paling kucingnya, atau siapa kek, setan juga gapapa. Tapi—
“Apa?”
Junhui nongol di ambang pintu.
Rambutnya agak berantakan, kaos rumah yang kelihatan tipis dan terlalu nyaman (kayaknya Junhui udah pakai baju ini 5 kali? Bukan urusan Wonwoo sih), bibirnya sedikit menjuntai ke bawah—kayak orang yang lagi badmood tapi males ngomong. Mampus. Wonwoo ngerasa lututnya lemes.
Anjir, gemes banget kucing yang ini.
“Maaf,” Wonwoo keburu ngomong sebelum otaknya kebagian giliran mikir. “Habis… makanannya di bawah.”